Berita & Pengumuman

Jejak Mbah Ahmad Mutamakkin, Peletak Dasar Keilmuan, Pesantren, dan Pemberdayaan Masyarakat di Kajen
Umum 26 Feb 2026

Jejak Mbah Ahmad Mutamakkin, Peletak Dasar Keilmuan, Pesantren, dan Pemberdayaan Masyarakat di Kajen

Pati, NU Online Hari-hari awal Muharram atau Asyuro seperti saat ini, masyarakat Kajen Margoyoso Pati dan sekitarnya memeringati Haul Mbah Ahmad Mutamakkin. Mbah Mutamakkin merupakan seorang ulama yang berperan besar secara historis dalam menyebarkan peradaban Islam di Kajen dan sekitarnya. Mbah Mutamakkin dikenal masyarakat sebagai waliyullah yang punya berbagai karomah dan peran besar dalam menyebarkan Islam. Namun, ternyata juga punya peran besar dalam membentuk cikal bakal keilmuan Islam, pesantren dan pemberdayaan masyarakat di Kajen secara khusus dan Pati secara umum. Ketua Pemandu Museum Mbah Ahmad Mutamakkin Kajen Zuli Rizal menjelaskan bahwa secara nasab, silsilah Mbah Mutamakkin masih bersambung dengan Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir. Ia juga punya trah keilmuan karena keturunan dari Sumohadinegoro atau Pangeran Benowo 2, putra dari Sumohadiningrat atau Pangeran Benowo 1, yang merupakan putra dari Sultan Hadiwijaya. "Jadi secara historis beliau memang sudah dibesarkan dari keluarga yang berilmu yang punya iklim dan secara turun temurun membawa marwah dari tokoh-tokoh besar itu," ujarnya saat diwawancara NU Online pada Kamis (3/7/2025). Ia menambahkan, Mbah Ahmad Mutamakkin punya sejarah keilmuan dari mulai diasuh ayahnya dan berkelana ke ulama-ulama pesisir Jawa seperti Sarang sampai Banten hingga berguru ke Syekh Abdurrouf As-Singkili Aceh. Bahkan, Mbah Mutamakkin sempat mencari ilmu hingga ke Timur Tengah dan Persia. Sampai akhirnya ia terdampar di Pantai Cebolek dan memilih mengembangkan Islam di Kajen bersama mertuanya Mbah Syamsuddin. "Mbah Ahmad Mutamakkin ini berdakwah di Kajen dan mendirikan masjid bersama Mbah Syamsuddin. Dari sinilah Mbah Mutamakkin mengajarkan ilmu-ilmu dan banyak dari para santri mulai berdatangan," terangnya. Perlu diketahui, kata Zuli, Mbah Mutamakkin punya dakwah kultural yang unik. Mbah Mutamakkin memakai media-media budaya dalam dakwahnya, misalnya menyisipkan cerita-cerita tentang Dewaruci. "Dan medianya pernah saya dengar menggunakan wayang suket," kisahnya.

Bagikan Informasi Ini

WhatsApp